Posts

CERITA - SEJARAH

Image
  C E R I T A     Sebaik atau senyata apapun fakta yang ditampilkan sebuah cerita/sejarah akan tetap sebagai cerita, sifatnya hanya menghibur. Selama tidak melakukan apa2, kita tidak kemana2 hanya mutar2 ditempat. Pencerahan atau pencapaian didasarkan atas pengalaman dalam latihan. Pengalaman yang mengantarkan kita untuk sampai pada tujuan bukan ceritera. Cerita cenderung menina bobokan atau membuat kita tertidur.     Kita lahir kedunia bukan untuk mendengarkan cerita tapi untuk mencari solusi! Sadar atau tidak, mengerti atau tidak, percaya atau tidak, bahwa kita lahir sebagai manusia adalah untuk mengenali diri sendiri, ' siapa saya ' - paraning numadi Itulah kewajiban! - itulah kebebasan! - itulah pencerahan! - Itulah YOGA !        Yoga bukan Agama, yang mengajarkan boleh dan tidak boleh, Yoga juga bukan saat kita me-mutar2 tubuh ini. Yoga adalah kemanunggalan / unity, bahwa kita satu energi . Yoga mengajarkan bagaimana cara ...

KIBLATNYA ORANG BALI DALAM BERDOA!

Image
  KIBLATNYA ORANG BALI DALAM BERDOA      Meskipun Bali telah menerima Agama sebagai dasar filosopi, namun dalam pelaksanaannya Bali masih tetap berpegang pada kearifan lokal, pemujaan kepada leluhur.       Konsep Padma Tiga di Besakih adalah cermin dari prinsip Shiwa Sidanta / Shiwaisme / TRI PURUSHA (Shiwa, Sada Shiwa, Parama Shiwa), tapi orang Bali dalam praktiknya, memuja/sembahyang kepada leluhur, Ida Bhatara Lingsir. Memuja leluhur dan mendudukkan Leluhur sebagai  Shiwa Lingga  (Ista Dewata). Tidak menyembah Dewa2. Yang dianggap Leluhur paling tinggi kedudukannya oleh orang Bali adalah Bhatara Tiga; BH Putranjaya (Besakih), BH Gnijaya (Lempuyang) dan BH DEWI DANU (Batur).  Hampir semua PURA-PURA di Bali ada oknumnya atau mendudukkan Leluhur yang sudah sampai sebagai  Shiwa Lingga , atau obyek yang dipuja. Sebagai perwujudan atau manifestasi Tuhan dalam wujud nyata. Begitu juga disetiap rumah memiliki Rong Telu, prinsip pe...

D O A

Image
  PERMOHONAN DALAM  D O A ! Apa itu DOA? • DOA untuk orang biasa / umum :         Ada 7 permintaan / permohonan di dalam Doa, sudah menjadi patokan kita di Bali: 1. Kerahayuan ( Ayu ), 2. Berkelanjutan, sustainable  ( Yase ), 3. kecerdasan ( Pradnyan ), 4. kebahagiaan ( Suka ),  5. kemakmuran ( Sriyem ), 6. kebenaran ( Dharma ), 7. keturunan ( Shentana ). Itulah permohonan dalam Sapta Werdhi. (Ayur werdih yasa werdih ....... dst.) Itulah permohonan orang Bali di dalam doa, sudah ada acuannya/patok! • DOA bagi seorang Sadhaka ( YOGI ):         Patanjali mengatakan Doa adalah melarutkan diri / meleburkan diri. Melarutkan diri dalam kesadaran Ilahi / meleburkan diri dalam kesadaran Shiwa - bersatu dalam kesadaran Shiwa.  "I NEED NOTHING! - I SEEK NOTHING! - I DESIRE NOTHING!" (Saya tidak butuh apa, tidak mencari apa dan tidak berharap apa). Itulah Doa menurut Spiritual/kemurnian. Jadi, Doa atau Berdoa tergantung kita! ...

Mati tdk butuh persiapan

Image
MATI TIDAK BUTUH PERSIAPAN Untuk apa mempersiapkan kematian?   Tanpa persiapanpun pasti akan mati! Lalu apa yang mesti kita lakukan dalam kehidupan ini, lahir sebagai Manusia ? Kita harus paham dengan  Grand Design , atau rencana besarnya! Mpu Kanwa , telah membuat ilustrasinya dalam sebuah syair 'Sasi Wimba' dalam Arjuna Wiwaha, tidak lain adalah kesimpulan dari Yoga Sutra Patanjali . Begitu juga Mpu Tan Akung  dalam kisah LOBDHAKA , diambil dari percakapan seorang Rsi dalam Uttara Kanda (RAMAYANA). Inti dari kedua sastra tersebut adalah, capailah targetMu sebagai Manusia sebelum kematian datang!       Jadi dalam kehidupan ini kita sebagai manusia harus memiliki Visi dan tahu Kewajiban . Mereka yang tidak memahami kewajibannya diibaratkan seperti orang sudah mati. Dalam  Itihasa,  yang dimaksud dengan orang sudah mati, adalah mereka yang selalu menggantungkan hidupnya pada pikiran ini, pikiran sibuk mengidentifikasi dan mengasumsi keadaan. (sib...

N G A B E N

Image
  We  Are Not Going Anywhere! Kita tidak ke-mana2         Ngaben atau mengabukan mengembalikan kelima elemen (pancha mahabuta) yang menyusun tubuh fisik ini. Kemudian menempatkan atau mendudukan pitara di kemulan R3, (moksha). Meskipun kita tahu bahwa yang bersangkutan pada saat masih hidup sering melakukan perbuatan tidak baik (tidak sesuai dengan dharma). Ngaben juga tidak ada kaitannya dengan status dan kedudukan seseorang, doanya tetap sama Amor Ing Acintya!  Itulah Etika dalam ritual Ngaben.         Sedangkan, dalam spritual atau kemurnian, tubuh astral setelah kematian yang masih membawa karma dunia atau masih terikat dengan hukum karma tidak diijinkan pergi kelapisan kosmik / ide kosmik ( Loka ) yang lebih tinggi, paraning numadi . Tetapi, tetap berada dilapisan Bumi ini (dunia materi), tidak ke-mana2. Hanya ber-pindah2 dari dan ke tubuh astral dan fisik, ( Punarbawa ).     Jadi, antara ritual dan spiritual ...

SYSTEM BINARY (Sankhya)

Image
  SYSTEM BINARY - (SANKHYA)         Keberadaan segala sesuatu di dunia ini selalu didasari atas bilangan binari atau system binary, pasangan / berpasangan. Disamping Matahari sebagai pusat gravitasi / pusat kehidupan, kita juga mengenal Zodiac yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Zodiac / Bhāvas (ke 12 Rashi bintang) memiliki konstelasi atau pasangannya masing2 sebagai fixed point atau patok untuk menentukan posisi matahari di alam raya ini. Zodiac, dalam kehidupan sosial mempengaruhi karakter / sifat2 dari kelahiran, dan juga padewasan (ala-ayu) baik - buruknya hari di setiap aktifitas.        Maha Rsi Manu membagi Jaman atau 'Yuga' menjadi Empat Yuga, berdasarkan peredaran matahari mengelilingi pasangannya (berpasangan), Matahari ber-sama2 dengan pasangannya mengitari pusat masanya, dan melintasi ke 12 Rashi bintang (zodiac). Satu kali putaran Yuga, membutuhkan waktu 24000 tahun, terdiri dari; 12000 tahun bergerak turun dan 12000 taha...

OBYEK BUKAN HAMBATAN

Image
O B Y E K  BUKAN HAMBATAN         Yang namanya obyek ya begitu, sifatnya sangat terbatas tidak bisa memberikan lebih.  Sedangkan indera menginginkan lebih, unlimited. Keinginan (nafsu) tanpa batas, keinginan takkan pernah terpenuhi!  Kenapa obyek yang dipermasalahkan! Kalau tidak bisa mengendalikan diri untuk apa beragama! Mata hanya berfungsi sebagai perantara untuk melihat, bukan untuk merespon.  Alat indera (mata) dengan pusat indera (otak besar) berbeda. Itu artinya semua masalah ada dipikiran bukan pada mata!     Dengan menutup obyek secara berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah! Itulah hambatan, walaupun tidak ditunjukkan, pikiran akan menemukan obyeknya / hambatannya sendiri. Weda telah memetakan seluruh hambatan, semua itu ada 9 hambatan. ° OUT OF THE BOX! ᭑᭙ ᬚᬸᬦᬶ ᭓᭒᭜ ᬤ᭄ᬯᬧᬭ ᬬᬸᬕ᭞ ᬍ᭜᭒᭜ ᬫᬲᭂᬳᬶ᭟

VISI

Image
V I S I Visi, adalah yang memberi arah pada energy kehidupan.  Kekeliruan atau kesalahan adalah tindakan yang terputus dari visi.  Perluas visimu dan perdalam kemurnianmu / jatidiri. Hal ini sudah tercermin dalam Catur Purusārtha, empat pilar untuk mencapai tujuan  ;  Dharma, Artha, Kama  dan  Moksha . Dharma : Kebenaran yang menjadi landasan atau acuan disetiap aktifitas kehidupan. Artha : Artinya Tujuan bisa juga berarti kekayaan atau kemakmuran yang dilandasi dharma atau kebenaran Kama : Keinginan, Weda mengijinkan untuk memenuhi keinginan asal didasarkan pada kebenaran/dharma. Moksha : Dalam pengertian Mokshartam Jagadhita, adalah target atau pencapaian.         Jadi Visi adalah kebenaran / kewajiban, kewajiban adalah kebebasan, melakukan kewajiban untuk kepentingan orang banyak, tanggung jawabnya kepada Tuhan. Itulah ultimit dari pikiran, wujud tertingginya. Maka perluaslah VISI.     ...

MENCEMASKAN KEMATIAN

Image
MENCEMASKAN  K E M A T I A N !          Rasa takut yang paling mendalam, adalah ' Mencemaskan Kematian ,' salah satu dari sumber duka/klesa. Weda telah memetakan semua sumber duka, sarwa klesa/segala duka, apa saja yg termasuk dlm sarwa klesa ; Avidyā, Asmitā, Rāga, Dweşa dan Abhiniweśah . Disebut dg Pancha Klesa : ▪ Avidyā = ketidak tahuan, ignorance ▪ Asmitā = keakuan, ahamkara atau ego ▪ Rāga = ketertarikan, kesenangan ▪ Dveşa = penolakan, ketidak senangan, kebencian. ▪ Abhimiveśah = rasa cemas, ketakutan akan kematian. Itulah kelima sumber duka.        Avidyā  adalah sumber dari segala sumber duka. Kalau diibaratkan sebuah pohon, Avidyā adalah akar, sedangkan klesa2 yg lain adalah cabang dan ranting. Kalau hanya memotong cabang dan ranting saja tanpa mencabut akar, akan tumbuh lagi, bahkan tumbuhnya bisa lbh lebat. Kalau akarnya kita cabut, cabang dan ranting akan rontok dg sendirinya. ...